Cara Membedakan Oximeter Asli dan Palsu, Jangan Asal Beli!

Cara Membedakan Oximeter Asli dan Palsu, Jangan Asal Beli!


Alat pengukur kadar oksigen dalam darah atau oximeter belakangan naik daun, seiring tingginya penularan Covid-19. Cara membedakan oximeter asli dan palsu perlu diketahui. Hal ini perlu dilakukan agar kita terhindar dari kesalahan identifikasi mengenai kondisi tubuh kita.

Tips Kelola Limbah Masker Habis Pakai dengan Benar

Tips Kelola Limbah Masker Habis Pakai dengan Benar


Pandemi Covid-19 masih berlangsung sampai dengan saat ini hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berbagai upaya saat ini terus digencarkan seluruh komponen bangsa dalam menanggulangi situasi pandemi Covid-19.

Vaksinasi COVID-19 Saat Puasa Ramadhan, Bikin Batal Nggak Sih?

Vaksinasi COVID-19 Saat Puasa Ramadhan, Bikin Batal Nggak Sih?


Pemerintah terus melakukan vaksinasi untuk mengatasi pandemi COVID-19. Namun tidak terasa. Bulan Ramadhan akan segera datang, tapi bagaimana dengan hukumnya vaksinasi COVID-19 saat puasa?


Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang menjelaskan tentang dilakukannya vaksinasi saat bulan puasa.


Untuk menghindari kabar yang salah atau bahkan hoax, simak penjelasannya lebih lanjut berikut ini.


Vaksinasi COVID-19 saat Puasa Tidak Membatalkan



Mengutip Instagram @muipusat yang menetapkan bahwa melakukan vaksinasi COVID-19 saat puasa bagi umat Islam, dengan injeksi intramuscular hukumnya boleh, selama tidak menyebabkan bahaya (dharar).


MUI juga menetapkan bahwa vaksinasi COVID-19 melalui injeksi intramuscular tidak akan membatalkan puasa. Perlu diperhatikan bahwa injeksi intramuscular adalah injeksi yang dilakukan dengan cara penyuntikan obat atau vaksin melalui otot.


Namun, di sisi lain, MUI merekomendasikan agar pemerintah untuk melakukan vaksinasi COVID-19 pada malam hari selama bulan Ramadhan bagi umat Islam yang berpuasa di siang hari dan dikhawatirkan akan menyebabkan bahaya akibat lemahnya kondisi fisik.


Selain itu, MUI juga menyarankan agar umat Islam wajib mengikuti program vaksinasi COVID-19 yang dilaksanakan pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari wabah COVID-19.


Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Vaksinasi Saat Puasa


Hal yang perlu diperhatikan ketika vaksin covid-19

Karena tidak ada perbedaan pada proses vaksinasi selama puasa, maka tidak diperlukan persiapan khusus. Persiapannya tetap sama seperti vaksinasi di hari biasa, yaitu Anda harus memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum penyuntikan.


Namun selama Ramadan, umat Islam yang akan divaksinasi perlu memperhatikan dua hal: istirahat yang cukup dan sahur dengan makan makanan bergizi seimbang.


Apalagi puasa itu sendiri memberikan efek detoksifikasi, jadi sebenarnya puasa memberikan banyak manfaat, sehingga diharapkan masyarakat tidak khawatir dengan vaksin saat berpuasa.


Selain itu, juga tetap disiplin protokol kesehatan 3M: memakai masker dengan benar yang menutupi mulut dan hidung; menjaga jarak serta hindari kerumunan, dan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir atau menggunakan hand sanitizer. Ini adalah kebiasaan baru yang harus dilakukan atau diterapkan setiap orang.


Hukum Tentang Swab Test Saat Puasa



Selain mengenai vaksin COVID-19 yang tidak membatalkan saat puasa, masyarakat mungkin juga bertanya tentang dilakukannya swab test. Mengingat proses pengambilan sampel yang masuk ke rongga hidung dan rongga mulut.


Namun, diketahui bahwa umat Islam yang ingin melakukan swab test juga tidak membatalkan puasa dan umat Islam yang sedang berpuasa dapat melakukan swab test untuk mendeteksi COVID-19.


Berdasarkan Fatwa MUI, swab test merupakan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya material genetik dari sel, bakteri atau virus dengan cara mengambil sampel dahak, lendir atau cairan dari nasofaring dan orofaring.


Asalkan dilakukan sesuai ketentuan umum, maka dipercaya tidak membatalkan puasa.


Oleh karena itu, meskipun Anda sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, Anda tidak perlu ragu lagi untuk vaksin atau melakukan swab test ya!

Penggunaan Tali Masker yang Sedang Tren Justru Berbahaya, Kenapa?

Penggunaan Tali Masker yang Sedang Tren Justru Berbahaya, Kenapa?


Menggunakan masker kini sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan, setidaknya dalam satu tahun terakhir ini. Hal yang sama juga berlaku untuk tali masker atau strap mask.


Menggunakan masker merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus COVID-19 yang saat ini sedang menjadi pandemi di seluruh dunia.


Uniknya, pandemi malah menciptakan tren, seperti penggunaan strap mask atau tali masker belakangan ini.


Saat ini kita sering melihat banyak orang menambahkan aksesoris berupa kalung yang dikaitkan ke tali masker. Tujuannya agar saat tidak menggunakan masker (seperti makan) dan masker dapat dilepas dan digantungkan di dekat dada.


Tapi tahukah Anda bahwa sebenarnya menggunakan strap mask ini bisa berisiko?


Tidak Dianjurkan Tim Satgas COVID-19



Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander K. Ginting mengatakan, tidak disarankan memakai kalung pada tali masker karena justru dapat menyebarkan virus.


"Kalau kita turunkan pakai pengait itu sampai ke bawah, itu akan kena ke hijab, ke baju. Jadi sebenarnya bagian dalam masker itu tidak boleh kontak dengan lain-lain kecuali dengan bagian tubuh," kata Alex.


Masker sebaiknya tidak dilepas dan dipakai terlalu sering. Jika kita terlalu sering melepas pasang masker, kemungkinan adanya virus menempel di permukaan akan meningkat.


Saat disentuh, tangan yang terkena area yang terkontaminasi dapat menyebarkan virus ke hidung atau mata saat menyentuh wajah.


Risiko Droplets Menempel



Seorang dokter umum yang juga kandidat PhD bidang Medical Science di Kobe University, Adam Prabata juga setuju dengan adanya risiko penggunaan strap mask.


Dalam wawancara yang dikutip dari Kompas.com, Adam mengatakan bahwa ketika seseorang memakai masker yang digantungkan dengan kalung atau strap mask, maka ada risiko droplets menempel ke bagian dalam masker dan terjadi kontaminasi silang.


Adam menyarankan untuk menyimpan masker dengan aman dan benar untuk mencegah virus menempel pada masker, daripada menambahkan tali atau kalung pada masker.


Adam mengimbau kepada masyarakat untuk membuang atau mengganti masker jika sudah kotor. Karena masker yang basah dan kotor dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan mengurangi efektivitas masker.


Menjaga Masker Tetap Dekat



Di sisi lain, terdapat perbedaan pendapat tentang penggunaan strap mask. Mengutip Health.com, kalau kalung masker bisa menjaga agar masker tetap dekat dengan penggunaannya.


Sehingga pengguna tidak perlu merogoh masker yang disimpan di dalam kantong atau tas yang berisiko terkontaminasi.


Strap mask atau tali masker benar-benar berguna bagi orang yang menyukai aktivitas di luar ruangan, karena tali tersebut akan membuat masker lebih mudah digunakan jika berada di jalan setapak atau trotoar yang ramai saat mendaki, bersepeda atau sepatu roda.


"Ini adalah ide yang baik untuk orang-orang yang tampaknya kehilangan masker mereka saat mereka melakukan aktivitas atau berolahraga, dan itu pasti akan menjadi cara yang nyaman bagi mereka untuk selalu siap menggunakan masker," kata Nabeel Chaudhary, MD, dokter penyakit dalam dan perawatan primer bersertifikat di Manhattan Gastroenterology.


Namun di sisi lain, Chaudhary juga menyarankan untuk berhati-hati jika anak-anak yang menggunakannya karena rawan terlilit.


Meski masih menjadi kontroversi, Chaudhary merekomendasikan penggunaan kalung masker untuk aktivitas outdoor, seperti lari, bersepeda, hiking, berjalan, dan aktivitas outdoor lainnya.

Cara Menjaga Kesehatan Selama Wabah Virus Corona

Cara Menjaga Kesehatan Selama Wabah Virus Corona


Sangat penting bagi Anda untuk mengetahui cara menjaga kesehatan selama wabah virus corona mewabah.


Novel Coronavirus (2019-nCoV) yang berasal dari Wuhan, China masih menjadi topik utama perhatian publik di dunia.


Diketahui dari situs pemantauan virus Corona novel yang dibuat oleh Center for Systems Science and Engineering (CSSE) JHU menunjukkan bahwa penyebaran virus ini telah menginfeksi lebih dari 5.500 orang dan menyebabkan kematian sampai 131 jiwa.


Ini telah menyebabkan kepanikan di seluruh dunia, dan pemerintah juga mengambil tindakan untuk mencegah virus masuk ke negara itu.


Hal ini telah menyebabkan kepanikan di seluruh dunia, dan pihak pemerintah juga telah mengambil tindakan untuk mencegah virus tersebut masuk ke negaranya.


Virus Corona novel merupakan bagian dari kelompok besar virus Corona. Virus corona ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan ringan, seperti influenza, hingga tingkat terparah seperti Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS) dan Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS).


Lantas, cara apa saja yang bisa dilakukan dalam kebiasaan sehari-hari untuk menjaga kesehatan dari virus corona?


Cara Menjaga Kesehatan dari Virus Corona

Laurie Garrett, jurnalis dari Foreign Policy yang pernah memenangkan Hadiah Pulitzer untuk penulis kategori sains, memberikan beberapa tips yang bisa dilakukan, diantaranya:


1. Memakai Sarung Tangan



Laurie mengatakan, saat meninggalkan rumah sangat penting untuk memakai sarung tangan, baik itu sarung tangan musim dingin ataupun sarung tangan luar ruangan.


"Pakai sarung tangan ini terutama ketika Anda sedang berada di transportasi umum seperti kereta, bus, dan saat mengunjungi ruang publik," tulis Laurie.


Selain itu, ia menganjurkan untuk mengganti sarung tangan setiap hari, mencucinya sampai bersih, dan menghindari memakai sarung tangan yang lembab atau basah.


2. Hindari Menyentuh Wajah dan Mata



Jika Anda berada dalam situasi di mana Anda perlu melepas sarung tangan, seperti berjabat tangan atau makan, jangan menyentuh wajah atau mata bahkan jika Anda merasa ada yang gatal.


Hindari kontak tangan pada wajah dan mata. Sebelum mengenakan sarung tangan kembali, cuci tangan dengan sabun dan air hangat, lalu gosokkan jari Anda sebelum kembali mengenakan sarung tangan.


Dalam American Journal of Infection, selama pandemi influenza A (H1N1), diamati bahwa rata-rata orang menyentuh wajahnya sebanyak 3,3 kali per jam.


Di institusi perawatan kesehatan, sentuhan wajah yang sering, terutama selama periode penyakit musiman atau wabah penyakit, dapat berpotensi menyebabkan penularan kuman, virus, dan bakteri.


Meskipun mungkin sedikit lebih rumit dan membutuhkan banyak waktu, ini adalah cara yang baik untuk menjaga kesehatan dari virus Corona.


3. Menjaga Jarak dengan Orang-orang di Daerah Wabah



Laurie, yang sudah pernah mengunjungi 30 daerah wabah, mengatakan bahwa penggunaan masker tidak efektif ketika dipakai di luar ruangan dan bahkan dalam ruangan.


"Masker akan memburuk setelah 1-2 kali pemakaian. Menggunakan masker yang sama bahkan lebih menjijikan, karena isi mulut dan hidung melapisi bagian dalam topeng dengan bau yang menarik bakteri," tulisnya.


Sebaliknya, Laurie merekomendasikan untuk menjauh dari keramaian dan menjaga jarak setengah meter dari orang-orang secara pribadi.


"Jika seseorang batuk atau bersin, saya meminta mereka untuk mengenakan masker, untuk melindungi saya dari cairan yang berpotensi terkontaminasi. Jika mereka tidak mau, saya melangkah satu meter dari mereka, atau saya pergi," tambah Laurie.


Selain itu, untuk mencegah penyebaran virus corona, mohon untuk tidak berjabat tangan atau memeluk orang lain. Tolak mereka dengan sopan, katakan bahwa yang terbaik adalah tidak melakukan kontak dekat selama wabah berlangsung.


4. Menggunakan Handuk yang Bersih



Saat di dalam rumah, harap segera ganti semua handuk di kamar mandi dan dapur dengan handuk bersih. Tandai handuk dengan nama masing-masing anggota keluarga sehingga tidak ada yang akan menggunakan handuk yang sama.


"Minta semua orang di rumah Anda hanya menggunakan handuk mereka sendiri dan tidak pernah menyentuh handuk anggota keluarga lainnya," tegas Laurie.


Selain itu, cara menjaga kesehatan dari virus corona antara lain mencuci semua handuk dua kali dalam seminggu. Handuk basah adalah area paling digemari virus, seperti flu biasa, dan termasuk virus Corona.


5. Hati-hati Memegang Gagang Pintu



Laurie menjelaskan bahwa jika memungkinkan untuk membuka dan menutup pintu dengan siku atau bahu, lebih baik adalah lakukan cara tersebut. Putar gagang pintu dengan sarung tangan, atau cuci tangan Anda setelah menyentuhnya.


"Jika ada orang di rumah Anda yang sakit, cuci kenop pintu secara teratur. Berhati-hatilah dengan pegangan tangga, desktop, ponsel, mainan, laptop, dan benda apa pun yang biasa dipegang tangan," terangnya.


Dalam Continental Journal of Medical Health, dikatakan bahwa toilet dan kamar mandi umum digunakan oleh banyak orang, oleh karena itu ketika keluar, flora mikroba pada tubuh mereka dapat berpindah ke pegangan pintu tersebut.


Jika Anda memegang atau menggunakan benda-benda di atas yang milik orang lain, jangan menyentuh wajah Anda, dan segera cuci tangan Anda setelah menyentuh benda tersebut. Cara ini dapat efektif dalam menjaga kesehatan dari virus Corona.


6. Hindari Berbagi Alat Makan dengan Orang Lain



Saat berbagi makanan, hindari menggunakan sumpit dan alat makan pribadi saat mengambil makanan dari piring dan wadah lainnya. Juga, beri tahu anak Anda untuk tidak minum dari cangkir orang lain.


Sebagai gantinya, letakkan sendok saji di setiap piring dan perintahkan semua orang di meja untuk mengambil apa yang mereka inginkan ke piring atau mangkuk pribadi, lalu taruh sendok saji kembali ke piring utama.


"Gunakan sumpit pribadi mereka hanya untuk mengambil makanan dari piring mereka sendiri ke mulut mereka," jelas Laurie.


Setelah itu, Anda bisa membersihkan semua makanan dan peralatan dapur. Saat pergi ke suatu tempat makan, harap hindari restoran dengan praktik kebersihan yang buruk.


Nah itu dia, beberapa cara untuk menjaga kesehatan dari virus Corona yang sedang mewabah saat ini. Praktik kebersihan yang teratur dapat membantu menjaga kekebalan tubuh tetap kuat dan mencegah infeksi.

Apakah Efektif Menggunakan Jamu dan Obar Tradisional untuk Mengobati COVID-19?

Apakah Efektif Menggunakan Jamu dan Obar Tradisional untuk Mengobati COVID-19?


Jamu atau obat tradisional sudah dipercaya ratusan tahun dalam pengobatan berbagai penyakit. Oleh karena itu, setiap terjadi wabah pengobatan tradisional selalu dianggap sebagai salah satu jawaban untuk pencegahan. Ketika wabah COVID-19 pertama kali menyebar, pemerintah China langsung menetapkan beberapa jenis obat tradisional sebagai terapi pelengkap, kemudian para ahli China melakukan uji klinis terhadap beberapa obat tradisional tersebut sebagai salah satu pilihan pengobatan.


Selain itu, jamu atau obat tradisional juga menjadi pilihan untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari infeksi.


Apakah obat herbal atau obat tradisional terbukti efektif membantu mencegah dan mengobati COVID-19?


Potensi jamu dan obat tradisional dalam pengobatan pasien COVID-19


Sebelum membahas lebih lanjut, saya ingin tegaskan bahwa cara paling penting untuk mencegah penularan COVID-19 adalah dengan melakukan 3M (pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak).


Sampai saat ini, tidak ada bukti klinis bahwa suplemen apa pun dapat mencegah atau melindungi seseorang dari infeksi COVID-19. Kami telah mendengar tentang suplementasi vitamin C, vitamin D3, zinc, probiotik, dll., Tetapi tidak ada bukti ilmiah bahwa nutrisi ini secara khusus dapat mencegah penyebaran COVID-19.


Meski begitu, maraknya jamu atau obat tradisional saat pandemi COVID-19 bukan tanpa alasan. Pemerintah China secara resmi mengumumkan bahwa pengobatan tradisionalnya dapat meredakan gejala, mempercepat pemulihan dan mengurangi angka kematian akibat COVID-19. Meskipun tidak ada uji klinis khusus, China menggunakannya langsung di rumah sakit untuk pasien COVID-19.


Saat selama terjadi pandemi COVID-19, potensi pengobatan tradisional semakin terlihat, dengan banyaknya testimoni dari masyarakat dan penelitian bioinformatika. Artinya, penelitian in-silico, simulasi komputer yang menunjukkan bahwa senyawa aktif dari obat tradisional atau herbal dapat berikatan dengan protein virus SARS-CoV-2.


Apa sebenarnya pengobatan tradisional itu?


Menurut peraturan BPOM, obat tradisional dibagi menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah jamu, yang sudah digunakan secara turun-temurun dalam bentuk herbal dan sudah terbukti pengalaman diturunkan dari generasi ke generasi.


Jenis yang kedua disebut herbal terstandar, yaitu obat tradisional yang bahan bakunya sudah terstandar dan telah melalui uji praklinik, uji keamanan dan efektivitas pada hewan.


Ketiga, disebut fitofarmaka, yaitu obat herbal terstandar yang telah teruji secara klinis, termasuk uji keamanan dan efektivitas manusia.


Selama ini Indonesia memiliki catatan pengalaman dalam menggunakan obat tradisional untuk mengatasi wabah virus influenza yang merebak pada tahun 1918. Ketika flu merebak tahun itu, obat farmasi konvensional sulit didapat di Indonesia, sehingga obat tradisional banyak digunakan di Indonesia. Mengatasi wabah virus influenza (flu spanyol) yaitu jamu cabe puyang dan jamu temulawak.


Oleh karena itu, meskipun studi klinis belum dilakukan, jamu yang digunakan selama epidemi flu mungkin relevan digunakan untuk pengobatan COVID-19. Seperti di China, China juga langsung menguji obat tradisionalnya.


Obat tradisional sebagai Imunomodulator


Imunomodulator adalah salah satu zat atau lebih yang dapat memulihkan ketidakseimbangan sistem kekebalan tubuh yang dapat terganggu dengan mengaktifkan mekanisme pertahanan tubuh.



Tanaman obat dengan khasiat imunomodulator biasanya tidak hanya memperkuat sistem kekebalan tubuh, tetapi juga memiliki khasiat antiradang (anti-inflamasi). 


Tanaman obat yang sudah terbukti memiliki khasiat imunomodulator antara lain:

  • Temu mangga
  • Temulawak
  • Kunyit
  • Meniran
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Jahe


Tanaman obat yang terbukti secara ilmiah dengan khasiat imunomodulator:

  • Temulawak
  • Bawang putih
  • Rimpang kunyit
  • Kembang lawang
  • Jahe
  • Daun sirsak
  • Buah jambu biji
  • Daun kelor (moringa oleifera)


Tanaman obat sebagai imunomodulator telah diteliti secara klinis pada pasien COVID-19

  • Herba meniran
  • Herba echinacea
  • Jintan hitam (habbatussauda)


Penelitian tentang pengobatan tradisional sebagai imunomodulator untuk penderita COVID-19 telah banyak dilakukan di berbagai daerah / negara. Misalnya, Pakistan telah melakukan uji klinis tentang efektivitas kombinasi jintan hitam dan madu pada pasien COVID-19. Studi ini membuktikan bahwa kombinasi dua obat tradisional dapat secara signifikan membantu mengobati gejala pasien COVID-19.


Ini adalah data yang berharga, meskipun masih perlu dibuktikan secara klinis melalui uji klinis yang lebih besar.


Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan pedoman penggunaan suplemen herbal dan kesehatan terkait COVID-19. Oleh karena itu, meski belum banyak penelitian yang membuktikan keefektifan klinis obat herbal bagi penderita COVID-19, pengobatan tradisional tetap dianjurkan.


Kami dari Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) juga sudah melakukan berbagai upaya. Misalnya uji klinis jamu atau obat herbal imunomodulator asli Indonesia untuk mengobati COVID-19 di Indonesia yang dilakukan oleh PDPOTJI saat ini sedang dalam proses penulisan laporan akhir.


Kami berharap dapat memberikan saran dalam penanganan wabah COVID-19 di Indonesia.

Mengenal Terapi Plasma Konvalesen Sedang Tren untuk Pengobatan COVID-19

Mengenal Terapi Plasma Konvalesen Sedang Tren untuk Pengobatan COVID-19


Apakah Anda mulai sering membaca di media sosial tentang orang yang mencari donor plasma konvalesen?


Donor darah penyintas ini tengah menjadi tren karena dianggap bisa cukup kuat dan efektif dalam menangani kondisi seseorang yang terinfeksi COVID-19.


Tren ini dimulai dengan unggahan Gubernur Ganjar Pranowo yang mengunggah potret rekannya yang membaik usai menerima donor plasma.


Mau tahu secara rinci apa itu terapi plasma konvalesen? Ini penjelasan lengkapnya!


Sebagai Transfer Antibodi Antara Penyintas


Sebagai Transfer Antibodi Antara Penyintas


Mengutip American Society of Hematology, penggunaan plasma konvalesen dikumpulkan dari individu yang sebelumnya terinfeksi untuk mentransfer antibodi secara pasif.


Hal ini dilakukan untuk melindungi atau mengobati manusia, dan metode ini sudah ada sejak hampir 100 tahun yang lalu.


Hasil dari rangkaian kasus kecil selama MERS sebelumnya dan wabah virus SARS menunjukkan bahwa metode plasma konvalesen ini aman dan dapat memberikan manfaat klinis, termasuk pembersihan virus yang lebih cepat, terutama bila diberikan pada awal perjalanan penyakit.


Juru Bicara Satgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS) Tonang Dwi Ardyanto menjelaskan, terapi ini berpijak pada pemahaman bahwa seorang penyintas infeksi, ketika sembuh akan membentuk antibodi dalam tubuhnya.


Pada kasus infeksi COVID-19, acuannya adalah penyintas penyakit itu diharapkan sudah membentuk antibodi. Plasma penyintas kemudian diberikan kepada orang lain yang sedang menghadapi infeksi virus yang sama.


"Harapannya, antibodi yang diberikan melalui plasma ini tadi, membantu untuk melawan infeksi yang sedang berjalan," ujar Tonang mengutip Kompas.com.


Secara sederhana, Tonang mengatakan, terapi plasma konvalesen dipahami sebagai transfer antibodi antara penyintas suatu infeksi kepada orang yang sedang menghadapi infeksi COVID-19.


Tranfusi Produk Darah


Mayo Clinic menjelaskan, darah yang didonasikan oleh orang yang sembuh dari infeksi virus memiliki antibodi terhadap virus yang menyebabkannya.


Tranfusi Produk Darah

Darah yang didonorkan diproses untuk membuang sel darah, meninggalkan cairan (plasma) dan antibodi. Ini dapat diberikan kepada orang dengan infeksi yang sama untuk meningkatkan kemampuannya melawan virus.


Terapi plasma konvalesen ini dapat membantu orang pulih dari suatu infeksi penyakit. Sehingga dapat mengurangi keparahan atau memperpendek lamanya penyakit.


Terapi plasma ini diberikan dengan cara mengambil plasma darah yang mengandung antibodi dari donor, kemudian ditransfusikan kepada pasien yang membutuhkan.


Mengenai metode transfusi darah, Tonang menjelaskan bahwa ada pemahaman yang harus diketahui oleh masyarakat tentang metode ini. Produk darah bisa mencakup sel darah, maupun plasma darah.


"Dalam konsep transfusi darah sekarang ini, sudah memilih memberikan yang namanya komponen darah. Artinya, dari satu darah utuh, orang butuh plasmanya, maka yang diberikan plasmanya saja," jelas Tonang.


Begitu juga bila ada yang membutuhkan trombosit, maka yang diberikan hanya trombositnya saja. Atau misal ada yang butuh sel darah merah, maka yang diberikan hanya sel darah merahnya saja.


Khusus untuk infeksi COVID-19, yang dimaksud adalah pemberian antibodi. Tetapi, dalam kondisi biasa, transfusi plasma itu sebetulnya untuk memberikan faktor pembekuan darah.


Terapi Ini Tidak Sama dengan Vaksin


Vaksin Covid19

Tonang mengatakan, terapi plasma konvalesen tidak bisa dibandingkan dengan pemberian vaksin COVID-19. Karena keduanya memiliki target yang berbeda.


Terapi ini hanya diberikan pada pasien yang terinfeksi COVID-19 yang keadaannya sudah berat. Jika keadaannya sedang atau ringan, terapi ini justru tidak boleh diberikan.


Sementara pada pemberian vaksin, diberikan kepada orang yang belum pernah menderita penyakit tersebut. Sehingga, baik terapi plasma konvalesen dan pemberian vaksin adalah dua hal yang berbeda.


Itu dia penjelasan mengenai terapi plasma konvalesen untuk membantu menangani kondisi infeksi COVID-19. Semoga bermanfaat.

Cara Cek Penerima Vaksin Covid-19 di Pedulilindungi.id

Cara Cek Penerima Vaksin Covid-19 di Pedulilindungi.id

Indonesia memulai program vaksinasi Covid-19 pada hari Rabu (13/1/2021). 


Cara Cek Penerima Vaksin Covid-19 di Pedulilindungi.id

Dikutip dari cnbcindonesia.com : “Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi penerima pertama vaksin Sinovac bernama CoronaVac. Selain itu Jokowi, penerima vaksin pertama adalah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, perwakilan tokoh agama, artis Raffi Ahmad, perwakilan pengusaha, perwakilan dokter dan perwakilan bidang. Penyuntikan vaksin Sinovac pertama ini dilakukan di Istana Negara, Jakarta. Pada gelombang pertama vaksinasi ini, vaksin akan diberikan kepada tenaga kesehatan, pejabat publik yang rentan terinfeksi Covid-19.”


Cara Cek Penerima Vaksin Covid-19


Melalui pemberitahuan SMS


Berikut cara pengecekan penerima vaksin Covid-19 dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo):


  • Penerima vaksin akan menerima notifikasi pemberitahuan melalui SMS Blast dari ID Pengirim: PEDULICOVID.
  • Selanjutnya melakukan registrasi ulang melalui: SMS 1199 atau UMB *119#; aplikasi Pedulilindungi atau website https://pedulilindungi.id; melalui Babinsa/Babinkamtibmas setempat.
  • Selanjutnya Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi Covid-19 mengirim tiket elektronik sebagai undangan kepada penerima vaksin yang telah terverifikasi.
  • Pengingat jadwal layanan akan dikirimkan oleh sistem via SMS atau aplikasi Pedulilindungi.id kepada sasaran.


Melalui Situs Pedulilindungi.id


  • Buka situs pedulilundungi.id/cek-nik
  • Masukkan data berupa nomor NIK di kolom yang tersedia
  • Masukkan kode yang tertera di layar
  • Klik selanjutnya
  • Layar akan menunjukkan hasil apakah NIK terdaftar atau tidak.


PeduliLindungi dibuat oleh pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika. Aplikasi ini diluncurkan pada Maret 2020 dan sudah diunduh 4,5 juta lebih.


Masyarakat bisa mengecek apakah dirinya terdaftar sebagai penerima vaksinasi Covid-19 prioritas atau tidak melalui website https://pedulilindungi.id/. Selain itu, bisa juga mengeceknya melalui aplikasi PeduliLindungi yang dapat diunduh di Google PlayStore bagi pengguna Android atau Appstore bagi pengguna IOS.


Jika hasil cek penerima vaksin COVID-19 tidak termasuk maka layar akan menunjukkan tulisan "Mohon maaf, Anda dengan NIK ** Saat ini BELUM termasuk calon penerima vaksinasi COVID-19 GRATIS pada periode ini."


Sementara itu, bila merupakan tenaga kesehatan atau penunjang di fasilitas kesehatan dan tidak terdaftar bisa melakukan pengajuan melalui email. Adapun, siapkan data berupa Nama, NIK, Alamat, No HP, Tipe Nakes dan dilengkapi dengan Surat Keterangan dari kepala FASYANKES yang menerangkan kamu adalah Nakes dari FASYANKES terkait dan kirim ke alamat email vaksin@pedulilindungi.id.


Apakah Vaksin COVID-19 akan Tersedia Secara Gratis?


Pemerintah memastikan bahwa seluruh masyarakat Indonesia akan mendapatkan vaksin COVID-19 secara gratis. Hal itu disampaikan oleh presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Rabu (16/12/2020). 


"Setelah menerima banyak masukan masyarakat dan melakukan kalkulasi ulang, melakukan perhitungan ulang mengenai keuangan negara, dapat saya sampaikan bahwa vaksin COVID-19 untuk masyarakat adalah gratis," terang Jokowi lewat YouTube Sekretariat Kepresidenan, Rabu (16/12/2020). Dikutip dari health.detik.com


Bagaimana Cara Vaksin COVID-19 Bekerja?


Bagaimana Cara Vaksin COVID-19 Bekerja?

Masyarakat yang terdaftar dalam cek penerima vaksin COVID-19 kloter pertama akan mendapatkan vaksin Sinovac. Vaksin ini telah melalui tahap uji klinis demi memastikan keamanannya.


Adapun, cara kerja vaksin Sinovac ini adalah pertama disuntikkan ke dalam tubuh dan membuat Sel T dalam tubuh mendeteksi fragmen dan aktif hingga menghasilkan sel kekebalan lain untuk melawan virus corona.


Setelah itu, Sel B sebagai sel kekebalan lain menempel pada vaksin (virus corona yang dilemahkan) dan menarik atau seluruh hingga fragmennya muncul di permukaan.


Sel T pun membantu mencocokan fragmen sel B. Jika cocok, sel B akan berkembang biak menghasilkan antibodi untuk kekebalan tubuh. Setelah itu, antibodi akan menghentikan infeksi virus dalam tubuh dan mencegahnya masuk ke dalam sel tubuh.

Amankah Face Shield Sebagai Pengganti Masker?

Amankah Face Shield Sebagai Pengganti Masker?

Face shield belum efektif digunakan sebagai pengganti masker kain maupun medis.


Amankah Face Shield Sebagai Pengganti Masker?

Kondisi pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir mengharuskan semua orang untuk menggunakan masker dalam mencegah penularan virus Covid-19. Rajin memakai masker jika hendak keluar rumah memang salah satu cara yang paling praktis. Namun, sebagian orang tidak nyaman menggunakan masker dengan waktu yang panjang.


Dengan adanya face shield, sebagian orang menganggap lebih nyaman dipakai dibandingkan masker kain. Kemudahan melepas pasang dan membersihkan face shield membuat orang tertarik untuk menggunakannya ketika ingin berpergian.


Namun, face shield kurang efektif untuk menjadi pengganti masker. Lebih baik tetap memakai masker kain atau medis ketika ingin menggunakan face shield. Jika Anda ingin mengetahui informasi mengenai face shield yang kurang efektif sebagai pengganti masker, yuk simak rangkuman berikut ini.


1. Pentingnya melindungi wajah saat pandemi Covid-19


Wajah merupakan bagian yang sensitif tertular virus Covid-19. Hal ini dikarenakan virus dapat menular melalui mulut dan hidung. Salah satu cara untuk menghindari tertular Covid-19 dengan melindungi area wajah ketika bertemu dengan orang banyak atau sedang berpergian.


Face shield memang dapat melindungi area wajah, tetapi belum menjadi alternatif karena bagian bawah yang terbuka akan memicu penyebaran virus masuk ke dalam mulut dan hidung. Jika Anda ingin menggunakan face shield sebaiknya dilapisi kembali dengan menggunakan masker kain ataupun medis.


2. Apakah face shield efektif untuk digunakan?


Menurut sebuah studi mengenai Covid-19 di Swiss mengutarakan bahwa orang yang selalu memakai masker tidak tertular virus ini dan dinyatakan negatif. Sedangkan, orang yang memakai face shield tanpa dilapisi dengan masker tertular dan dinyatakan positif.


Hal ini memberitahu bahwa face shield tidak efektif untuk dijadikan pengganti masker medis maupun kain. Face shield hanya dapat digunakan sebagai alat pelindung tambahan untuk area wajah.


3. Penggunaan face shield yang tepat untuk wajah


Melindungi wajah wajib dilakukan oleh setiap orang. Maka dari itu, penggunaan pelindung wajah juga harus tepat dan benar. Ada beberapa yang dapat Anda lakukan ketika memakai face shield:


  • Melapisi face shield dengan masker. Seperti yang sudah diketahui bahwa face shield kurang efektif untuk mencegah tertularnya Covid-19. Untuk itu, Anda dapat menggunakan masker kain atau medis di dalam face shield secara bersamaan. Memang akan membuat pengap bahkan tidak nyaman, namun hal ini dapat mencegah penularan Covid-19.
  • Menggunakan face shield dengan ukuran yang pas dengan wajah. Bentuk wajah setiap orang berbeda-beda. Jika Anda membeli face shield, sebaiknya lebih memperhatikan ukurannya agar pas dengan bentuk wajah. Face shield yang tepat akan menutupi hingga area dagu dan sedikit ke area leher.
  • Rajin membersikan face shield setelah menggunakannya. Face shield terbuat dari bahan plastik yang memudahkan Anda untuk membersihkannya. Kotoran yang menempel pada face shield harus rajin dibersihkan dengan menggunakan air bersih. Anda juga dapat membersihkannya menggunakan yang berbahan dasar klorin.


4. Membeli face shield yang tepat dan dalam kondisi bagus


Saat ini, face shield mudah ditemukan diberbagai toko offline maupun online. Namun, ada saja face shield yang kondisinya sudah tidak bagus.


Anda dapat memilih toko offline maupun online yang sudah dipercaya dan sudah terkenal. Memang sebagian orang menganggapnya mahal jika membeli di toko yang terkenal, tetapi demi kesehatan tetap harus membelinya.


5. Memilih jenis face shield yang tepat


Face shield semakin dikenal oleh masyarakat. Tanpa disadari bahwa face shield mempunyai beberapa jenis yang menjadi pilihan untuk dibeli. Anda dapat memilih face shield yang mana saja, tetapi sebaiknya yang berbahan plastik agar memudahkan untuk membersihkan dan mencucinya.


Jika Anda memiliki face shield yang sudah tergabung dengan topi, sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum membukanya agar terhindar dari virus yang menempel disekitaran luar face shield. Jangan lupa untuk tetap menggunakan masker untuk perlindungan ekstra.


Itulah beberapa informasi mengenai face shield yang kurang aman. Semoga menginspirasi ya .

Selalu jaga kesehatan!

Jenis Masker yang Dianjurkan untuk Mencegah Virus Corona

Jenis Masker yang Dianjurkan untuk Mencegah Virus Corona


Penyebaran virus Corona di beberapa negara masih terus meningkat, termasuk di Indonesia. Beragam upaya sudah dilakukan untuk menghentikan penularan virus tersebut.


Salah satu usaha sederhana untuk menghentikan virus corona adalah penggunaan masker. Saat ini, menggunakan masker disarankan bagi orang yang bepergian untuk mengantisipasi penularan virus.


Seperti diketahui, virus ini terdapat pada percikan air liur orang yang sakit ketika ia bersin, batuk, atau bahkan saat berbicara. Penularan terjadi ketika percikan air liur terhirup orang lain yang ada di sekitar.


Karena itu, tak heran akhir-akhir ini, masyarakat kian sibuk mencari masker untuk melindungi diri dari virus Corona. Namun, banyaknya pilihan masker di pasaran bisa membuat bingung membelinya. Untuk memilih masker, perlu juga mengerti fungsi masing-masing masker terlebih dahulu.


Jenis masker sangat beragam. Beberapa di antaranya hanya berguna untuk menangkal polusi tapi tidak bisa menangkal penularan virus Corona. Hingga saat ini, ada 2 jenis masker untuk virus Corona yang disarankan kepada masyarakat.


Masker Bedah


Masker bedah atau surgical mask merupakan jenis masker sekali pakai yang mudah dijumpai dan sering digunakan tenaga medis saat bertugas. Masker bedah dapat dijadikan pilihan untuk mencegah penyebaran virus Corona karena memiliki lapisan yang mampu menghalau percikan air liur.



Meski begitu, masker ini lebih efektif bila dikenakan oleh orang yang sedang sakit untuk mencegah penularan kuman ke orang lain, ketimbang oleh orang yang sehat untuk melindungi diri dari penyakit.


Kebanyakan masker bedah terdiri dari 3 lapisan yang memiliki fungsi berbeda, yaitu: Lapisan luar dengan keistimewaan antiair. Kemudian lapisan tengah, yang berfungsi sebagai filter kuman. Dan, lapisan dalam, yang berguna untuk menyerap cairan yang keluar dari mulut.


Masyarakat tidak disarankan menggunakan masker tanpa ketiga fungsi tersebut karena tidak efektif dalam mencegah penyakit menular, seperti infeksi virus Corona.


Masker bedah bisa didapatkan dengan harga yang murah. Ditambah lagi, masker ini juga biasa dimanfaatkan untuk penggunaan sehari-hari, baik orang dewasa maupun anak-anak. Namun, masker ini agak sedikit longgar ketika digunakan, sehingga memungkinkan partikel kecil atau udara masuk melalui sisi tepi masker.


Masker N95


Masker N95 juga disarankan untuk mencegah penularan virus Corona. Masker yang cenderung lebih mahal dari masker bedah ini tidak hanya mampu menghalau percikan air liur saja, tapi juga partikel kecil di udara yang mungkin mengandung virus.



Dibanding masker bedah, masker N95 terasa lebih ketat pada wajah karena telah didesain secara pas untuk menutupi hidung dan mulut orang dewasa. Pada anak-anak, penggunaan masker ini tidak disarankan karena ukuran masker bisa terlalu besar sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang cukup.


Walaupun daya lindungnya lebih baik, masker N95 tidak disarankan untuk penggunaan sehari- hari. Hal ini disebabkan desainnya yang membuat orang yang memakai bisa sulit bernapas, gerah, dan tidak betah memakainya dalam jangka waktu yang agak lama.


Namun, penggunaan kedua masker tersebut, terutama N95, amat penting bagi tenaga medis yang tengah berjuang menangani pasien. Masyarakat yang sedang menjalani karantina di rumah, disarankan untuk tidak memborong masker dua jenis itu karena diprioritaskan untuk tenaga kesehatan.


Tips Memilih Masker untuk Anak

Tips Memilih Masker untuk Anak


Saat anak-anak kembali ke sekolah dan kembali ke taman bermain bersama teman-temannya, ada banyak hal yang membuat para Anda ragu dan khawatir di masa new normal COVID-19 ini. Tapi, satu hal yang kita tahu pasti adalah bahwa menggunakan masker akan membuat semua orang lebih aman.


Sebagai orang tua, Anda mungkin bertanya-tanya apa yang harus dicari dalam masker anak, di mana membeli masker anak yang tepat, dan bagaimana cara memilih masker anak? Berikut tips yang kami berikan untuk Anda.


Mengutip situs Cincinnati Children’s, berikut hal yang harus Anda perhatikan dalam memilih masker Si Kecil.


1. Pilih Masker yang Pas

Untuk keamanan yang maksimal, masker harus pas dan nyaman untuk Si Kecil, mengandung banyak lapisan kain, diamankan dengan dasi atau loop telinga, dan memberikan pernapasan yang lancar serta tidak sesak.


2. Pertimbangkan Masker Kain

Anak-anak memiliki banyak kaos di lemari pakaian mereka, dan hal yang sama berlaku untuk masker yang akan Si Kecil gunakan.


Anda disarankan memberi anak masker kain, karena jenis masker satu ini akan bertahan lebih lama dan melewati hari-hari sekolah lebih baik daripada pilihan sekali pakai.


Respirator N95 tidak diperlukan atau tidak sesuai untuk anak-anak yang akan kembali ke sekolah.


3. Pilih Jenis Kain yang Aman untuk Anak

Apakah buah hati Anda memiliki alergi atau kepekaan terhadap satu jenis kain?


Perhatikan jenis kain dan tekstur kain yang dapat ditoleransi oleh anak kita dan perhatikan ini pada jenis masker kain yang akan dipakai oleh Si Kecil juga.


4. Buat Maker Sendiri

Pertimbangkan untuk membuat masker kain sendiri agar anak bisa mendapatkan kenyamanan yang dibutuhkan.


Si Kecil akan lebih cenderung memakai pola atau warna yang mereka sukai tentunya, dan ada banyak cara mudah untuk membuat masker tanpa jahitan dengan pola yang sudah disediakan.


Anak akan membutuhkan 3-4 masker yang dapat mereka gunakan sepanjang minggu saat mencuci pakaian. Masker harus dicuci setelah digunakan.


5. Masker Ekstra Filter

Maksudnya di sini adalah ekstra filter dan ventilasi. Namun kembali lagi hal ini merupakan masalah preferensi pribadi dan tidak perlu atau direkomendasikan.


Sebuah studi baru-baru ini yang dilaporkan di media menunjukkan bahwa beberapa jenis masker kain mungkin lebih efektif daripada yang lain.


6. Perawatan Masker Anak

Cuci masker anak setelah digunakan dengan air panas dan keringkan di bawah sinar matahari. Jika kotor, simpan masker dalam kantong kertas semalaman atau sampai Anda bisa mencucinya.


Jika Anda tidak mungkin atau terlalu sibuk untuk membuat masker Si Kecil, maka membeli masker yang tepat untuk Si Kecil adalah satu-satunya jalan.


Tidak perlu bingung harus membeli di mana, Anda bisa membeli masker Down to Earth Korean Premium Kids & Baby Mask.


Down to Earth Korean Premium Kids & Baby Mask adalah masker anak yang sudah teruji dan aman untuk buah hati kita.


Keunggulannya ada pada 4 lapis filter maskernya yang sudah pasti aman, lalu bahannya yang water repellent atau anti air, dan desain ergonomisnya dalam bentuk 3 dimensi yang akan pas digunakan oleh anak.


Anda juga tidak perlu telinga Si Kecil akan kesakitan karena Down to Earth Korean Premium Kids & Baby Mask ini dibuat dengan adjustable earloop with adjustable silicon fish, yang artinya terdapat penjepit pada tali masker anak sehingga tali masker dapat disesuaikan.


Tak hanya itu, disediakan kantong ziplock antibacterial untuk menyimpan masker anak juga lho.


Anda bisa memilih masker yang cocok untuk anak sesuai dengan ukurannya, yaitu:


  • Size S, untuk anak usia 2-5 tahun
  • Size M, untuk anak usia 5-9 tahun
  • Size L, untuk anak usia 10 hingga dewasa


Semoga tips supaya anak mau pakai masker di atas bisa membantu Anda, ya. Ada trik yang ingin Anda tambahkan?


Cara Ampuh Supaya Anak Mau Pakai Masker

Cara Ampuh Supaya Anak Mau Pakai Masker


Banyak anak merasa tidak betah dipakaikan sesuatu di kepala atau wajah mereka, termasuk masker. Bagaimana, ya, tips supaya anak mau pakai masker?


Di tengah mewabahnya virus Corona seperti sekarang, memakai masker adalah keharusan pada kondisi tertentu. Misalnya saat sedang sakit atau berada di tempat ramai seperti bandara dan rumah sakit. Anjuran ini tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, tapi juga anak-anak.


Meski demikian, tidak mudah memakaikan masker pada anak-anak. Mereka seringkali menolak dipakaikan masker atau mencopotnya setelah terpasang. Mungkin mereka merasa gerah, sulit bernapas, dan merasa tidak nyaman.


Memperkenalkan hal baru pada anak-anak memang sebaiknya tidak dilakukan mendadak. Mereka perlu waktu untuk beradaptasi. Karena itu, berlatih dulu di rumah menjadi salah satu tips supaya anak mau pakai masker.


Tips Mengenalkan Balita dengan Masker



Berikut cara mengakrabkan Si Kecil dengan masker berdasarkan saran yang dihimpun oleh Jamie Roney dari situs web Cystic Fibrosis Foundation:


  • Anda dan Pasangan Anda ikut memakai masker agar Si Kecil tidak merasa sendirian
  • Saat Anda dan Si Kecil memakai masker, bercerminlah dan ceritakan sesuatu tentang masker tersebut
  • Pakaikan masker ke boneka favorit Si Kecil
  • Hias masker agar tampak lebih personal dan lucu
  • Tunjukkan foto anak-anak lain memakai masker
  • Gambar masker di karakter buku favorit Si Kecil
  • Beri hadiah pada Si Kecil jika berhasil betah memakai masker


Tips Memakaikan Masker ke Si Kecil



Ummu Balqis, seorang penggiat parenting di Instagram, memberikan tips memakaikan masker pada bayi (dan anak-anak) sebelum pergi ke bandara:


  • Pakaikan masker saat bayi tertidur pulas beberapa saat sebelum sampai lokasi
  • Di daerah tali, olesi minyak telon atau sesuatu yang beraroma familiar bagi bayi
  • Jepit satu tangan bayi di ketiak saat digendong agar tidak menarik-narik masker


Gunakan masker anak-anak, ya, Moms, agar pas dengan wajahnya yang kecil.


Tips Supaya Anak Mau Pakai Masker



Tips dari akun parenting Keluarga Kita ini tampaknya lebih cocok untuk anak-anak yang sudah mengerti jika diajak bicara.


  1. Jelaskan perlunya memakai masker dengan bahasa sederhana dan sesuai pemahaman anak.
  2. Gunakan ilustrasi konkret atau praktikkan cara penyebaran dan penularan virus. Misalnya dengan membubuhkan bedak pada kedua tangan. Sentuh beberapa benda, misalnya gagang pintu, permukaan meja, wajah, dan tangan hingga meninggalkan bekas putih. Bekas putih yang terpegang oleh orang lain adalah contoh penularan virus.
  3. Hindari menakut-nakuti dan mengancam anak. Dukungan dan pendekatan positif dapat membantu anak memahami pentingnya mencuci tangan dan mengenakan masker saat sakit
  4. Tunjukkan empati dan terima perasaannya. “Tidak nyaman, ya, Nak? Mom kipasi sebentar, ya. Lama-lama terbiasa, kok.”


Cara Aman Traveling di Masa New Normal

Cara Aman Traveling di Masa New Normal

Tidak sabar rasanya ingin traveling lagi ketika situasi mulai pulih. Kita mendengar pemerintah mulai memberikan protokol keamanan terbaru untuk menghadapi situasi new normal, yakni masa yang kita sebut sebagai transisi menuju pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


Tentu sudah banyak destinasi yang ingin dikunjungi, baik itu pantai ataupun hotel kece yang menjadi wishlist.


Supaya kamu tetap ‘terlindungi’ selama traveling, berikut Talk Sehat rangkum tips Cara Aman Traveling di Masa New Normal. Simak, yuk!


1. Selalu bawa hand sanitizer


Cuci tangan secara berkala sangat penting untuk menjaga kebersihan tangan, apalagi mengingat banyak kuman hingga virus yang dapat menempel di tangan. Selain itu, kita juga sangat sering menyentuh wajah dengan tangan. Penelitian menunjukkan kita menyentuh wajah menggunakan tangan bahkan hingga 23 kali hanya dalam satu jam.


Jika mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tidak memungkinkan, maka hand sanitizer dapat digunakan menjadi pengganti sabun cuci tangan di mana keefektifannya tidak jauh berbeda. Studi yang dilakukan University of Maryland menunjukkan, jumlah bakteri yang tertinggal pada tangan yang dibersihkan menggunakan sabun dan hand sanitizer ternyata tidak jauh berbeda.


2. Gunakan masker kain di mana pun


C.D.C. telah merekomendasikan bahwa semua orang untuk mengenakan masker kain jika ingin pergi ke tempat umum. Hal ini untuk mengantisipasi penyebaran virus dari orang tanpa gejala (OTG). Namun, dengan menggunakan masker bukan berarti kamu aman untuk berdekatan dengan orang lain. Kamu tetap harus memperhatikan protokol menjaga jarak yang baik dan benar.


3. Pilih kursi di dekat jendela pesawat


Jika memungkinkan, saat bepergian dengan pesawat, pilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Sebuah penelitian dari Emory University menemukan, bahwa selama musim flu tempat teraman untuk duduk di pesawat adalah dekat jendela. Mengapa? Karena orang yang duduk di kursi dekat jendela memiliki lebih sedikit kontak dengan orang yang berpotensi sakit.


4. Bawa peralatan makan sendiri 


Peralatan makan dan minum seperti sendok, garpu, dan tumbler dapat dibawa ke mana pun kamu pergi. Dengan membawa peralatan makan sendiri, kamu dapat mencegah terjadinya penularan.


5. Check-in secara online 


Kita tahu bahwa salah satu medium penyebaran virus adalah dengan sentuhan. Sedangkan boarding pass adalah salah satu benda yang sering berpindah tangan dan disentuh untuk pengecekan. Solusi untuk mengurangi sentuhan di masa pengecekan yaitu dengan melakukan boarding pass online.


6. Bawa termometer digital sendiri 


Pengecekan suhu tubuh sudah normal dilakukan di area publik saat ini. Biasanya dengan cara ‘menembakkan’ termometer infrared digital di bagian atas mata (dahi). Karena bentuknya yang besar dan harganya yang relatif mahal, membawanya secara mandiri tidaklah ideal. Namun, kamu bisa membeli termometer yang lebih kecil dan harganya pun lebih murah sekitar Rp20.000-Rp40.000 di toko belanja online. Dengan membawa termometer ini, kamu bisa mengecek suhu tubuh secara reguler di destinasi yang akan kamu tuju. Hal ini juga untuk memastikan apabila kamu memiliki gejala demam.


7. Pilih destinasi outdoor ketimbang indoor


Kita tahu bahwa penyebaran virus lebih banyak di tempat tertutup (indoor) dan padat. Hal ini membuat destinasi outdoor seperti taman, pantai, gunung, dan sejenisnya akan lebih populer. Selama menerapkan protokol menjaga jarak, destinasi outdoor cenderung lebih aman.